Logo 2 (1)
GCKI OUTING-RESEARCH

Penelitian dalam Reflektif dan Rekreatif di P. Pari

Minggu, 3 Mei 2026, fajar di Pelabuhan Jakarta menyapa dengan semburat jingga yang tenang. Di antara kerumunan wisatawan, nampak sekelompok anak muda dengan binar mata yang berbeda. Mereka bukan sekadar pelancong; mereka adalah mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas PTIQ Jakarta yang tengah bersiap melakukan penjelajahan bermakna menuju Pulau Pari, Kepulauan Seribu.

Perjalanan yang difasilitasi oleh agen travelbyraka ini bukan sekadar agenda jalan-jalan akhir pekan. Di balik tawa dan deru mesin kapal, tersimpan misi besar: sebuah pendampingan penelitian lapangan yang dirancang untuk mengasah ketajaman analisis dan empati sosial para mahasiswa.

Eksplorasi Metode: Tantangan Intelektualitas

Pendampingan ini membagi mahasiswa ke dalam berbagai klaster metodologi penelitian. Di sudut pulau yang tenang, kelompok Etnografi Komunikasi tampak sibuk berbaur, berusaha memahami pola tutur dan budaya lokal masyarakat pesisir. Di sisi lain, kelompok Fenomenologi mencoba menyelami makna terdalam dari pengalaman hidup para nelayan, mencari hakikat di balik rutinitas yang kasat mata.

Dunia digital pun tak luput dari bidikan. Kelompok Etnografi Virtual sibuk membedah bagaimana Pulau Pari dipotret dalam jagat maya, sementara kelompok Framing menganalisis bagaimana narasi pariwisata dikonstruksi oleh media. Tak ketinggalan, kelompok Studi Kasus melakukan observasi mendalam terhadap dinamika sosial yang unik di pulau ini.

Pendampingan ini terasa semakin hidup dengan kehadiran staf GCKI yang terjun langsung memberikan arahan. Raden Heri Arya A., Hassa Yanura Khairina, dan Rumaisha Adiba terlihat mengawasi dan siap dengan segala kemungkinan peserta di lapangan, sementara Dhaniah Farsya serta M. Zaid Fakihudin turut memastikan setiap data yang diambil memiliki kedalaman reflektif.

Latihan Penguatan Emoisonal dan Spiritual di Atas Air

Puncak dari dinamika emosional hari itu terjadi di tengah laut. Saat adrenalin dipacu melalui wahana banana boat, tawa pecah menyatu dengan deburan ombak. Namun, bagi GCKI, ini bukan sekadar hiburan.

"Ini adalah tentang menguji keberanian dan tantangan dalam air. Di saat mereka harus berpegangan erat dan menghadapi hempasan ombak, mereka belajar tentang resiliensi, sebuah mentalitas yang wajib dimiliki peneliti saat menghadapi kebuntuan di lapangan," ungkap Heri Arya, selaku pendamping.

Aktivitas ini menjadi jembatan antara teori yang kaku dan realitas yang cair. Mereka tidak hanya belajar tertawa lepas, tetapi juga menginternalisasi nilai keberanian yang nantinya akan tertuang dalam portofolio masa depan mereka.

Visi untuk Anak Bangsa

Di balik layar kesuksesan agenda ini, terdapat sosok Ellys Lestari Pambayun, Ketua GCKI, yang memiliki visi besar. Baginya, mendampingi mahasiswa PTIQ adalah bentuk pengabdian nyata untuk mencetak generasi unggul. Ia berupaya memberikan yang terbaik bagi anak-anak bangsa melalui tiga pilar eksplorasi:

  • Intelektual: Melalui ketajaman metode penelitian yang diaplikasikan secara langsung.
  • Emosional: Membangun kedekatan, kerja sama tim, dan kontrol diri melalui tantangan fisik.
  • Spiritual: Menyadari kebesaran Sang Pencipta melalui keindahan alam dan interaksi manusiawi yang tulus.

Refleksi dan Saran

Perjalanan ini menyisakan jejak yang dalam. Bahwa ilmu komunikasi tidak hanya bersemayam di dalam buku teks, tapi bernapas dalam interaksi di dermaga, dalam sorot mata penduduk lokal, dan dalam keberanian melawan rasa takut di tengah laut.

Sebagai saran untuk pengembangan ke depan, integrasi hasil penelitian ini ke dalam platform digital atau jurnal pengabdian masyarakat akan sangat berharga. Portofolio yang disusun tidak boleh berhenti sebagai tugas kuliah, melainkan harus menjadi bukti otentik bahwa mahasiswa PTIQ Jakarta mampu membaca zaman dengan hati yang bersih dan pikiran yang tajam.

Hari itu, Pulau Pari bukan sekadar destinasi wisata. Ia menjelma menjadi laboratorium kehidupan, tempat di mana intelektualitas, emosi, dan spiritualitas menyatu dalam harmoni ombak Kepulauan Seribu.

Penulis: Hassa yanura Khairina dan Raden Heri Arya A.

Fotografi: Rumaisha Adiba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *