Logo 2 (1)
Dalam Dekapan Digital, Komunitas Aboge Banyumas Hadapi Tantangan Baru

BANYUMAS (2/12/2025) — Di tengah gempuran era digital, Komunitas Islam Aboge Desa Cikakak, Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, menunjukkan wajah dualitas: menjaga kerukunan antarumat beragama sambil menghadapi tantangan modernisasi yang menggerus tradisi dan spiritualitas.

Sebuah tim jurnalis yang terdiri atas Ellys Lestari Pambayun, Bahtiar Heraudie, Heru Sujatmiko, dan Dhaniyah melakukan perjalanan dari Kabupaten Bogor dan tiba pada Sabtu, 29 November 2025, untuk mendalami kehidupan komunitas yang khas dengan perhitungan kalender Jawa-Islamnya (Alif-Rebo-Wage/Aboge) ini.

Hidup Berdampingan Tanpa Friksi

Inti dari laporan ini menegaskan bahwa kerukunan telah menjadi napas sehari-hari di Wangon, Banyumas. Wawancara dengan Suprihatin dari IGABA (Ikatan Guru 'Aisyiyah Bustanul Athfal) Wangon dan dengan Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Wangon, Ahlan, yang juga Kepala Sekolah MTs Ma’arif Wangon, menghasilkan kesimpulan yang sama: "Sejak dulu, kami hidup berdampingan. Perbedaan keyakinan, termasuk cara Aboge menentukan hari besar, tidak pernah menjadi sumber friksi atau konflik. Kami saling menghormati dan mendukung dalam kehidupan sosial."

Komunitas Aboge yang dikenal dengan tradisi leluhur yang kuat ini berhasil menenun harmoni dengan masyarakat Muslim arus utama di sekitarnya, menunjukkan toleransi beragama yang telah mengakar.

Melek Media, Longgar Agama

Ironisnya, tantangan justru datang dari kemajuan teknologi. Tim menemukan bahwa Komunitas Aboge kini sangat melek media sosial. Hampir seluruh anggota masyarakat memiliki ponsel pintar dan akun media sosial. Namun penetrasi digital ini membawa dampak yang signifikan terhadap komunitas:

  • Kehidupan agama semakin longgar: Kehadiran media sosial dan hiburan digital membuat fokus pada ritual dan ibadah keagamaan menjadi berkurang.
  • Masjid kehilangan jamaah: Dampak yang paling terasa adalah seringnya masjid kosong karena hilangnya jamaah yang lebih memilih kegiatan lain di luar masjid.
  • Media literasi hilang: Kemudahan akses informasi (dan misinformasi) melalui gawai turut mengikis media literasi di masyarakat.
  • Penguatan adat luntur: Nilai-nilai penguatan adat dan tradisi lokal yang selama ini dipegang teguh oleh Aboge perlahan meluntur tergerus gaya hidup modern.

"Akses ke informasi memang semakin mudah, tapi perhatian anak muda terhadap ajaran agama dan adat semakin berkurang. Mereka punya HP, punya akun, tapi penguatan rohaniah dan literasi kian hilang. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami," tutur Suprihatin.

Masa Depan Aboge di Persimpangan

Komunitas Aboge Cikakak, Wangon, Banyumas kini berada di persimpangan antara pelestarian budaya dan laju modernisasi. Pada satu sisi mereka telah sukses dalam menjaga keharmonisan antarumat beragama, tetapi pada sisi lain kini mereka harus berjuang keras mempertahankan warisan spiritual dan adat di hadapan layar digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *