BOGOR – Sebanyak 23 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Kabupaten Bogor berkumpul untuk mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat berupa pelatihan "Penguatan Branding Pelaku UMKM". Acara ini berlangsung hangat dan penuh antusias pada Minggu, 28 Juni 2026, bertempat di Aula Gerakan Cerdas Komunikasi Indonesia (GCKI), Komplek LIPI 1, Rawapanjang, Bojonggede, Kabupaten Bogor. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB ini diwarnai dengan ruang diskusi yang dinamis, sekaligus menjadi wadah bagi para pelaku usaha untuk menumpahkan keluh kesah mereka terkait dinamika pasar terkini.
Program ini terselenggara berkat kerja sama strategis antara Yayasan GCKI yang dipimpin oleh Dr. Ellys Lestari Pambayun, M.Si., dengan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta Selatan. Menghadirkan dosen komunikasi pemasaran, Dr. Ira Purwitasari, M. Ikom., sebagai narasumber utama, beliau didampingi oleh dua orang mahasiswa Fikom UMB yang aktif membantu jalannya pendampingan secara langsung kepada para peserta.
Di balik layar, kelancaran acara ini didukung penuh oleh Panitia dari Tim Ekonomi Kreatif GCKI. Tim ini dikoordinatori oleh Raden Heri Arya A., dengan M. Zaid Fakihudin dan Rumaisha Adiba yang menggawangi sektor media publikasi, serta Hassa Yanura Khairina bersama Kasan yang sigap mengondisikan urusan logistik dan peralatan teknis.
Strategi Branding dan Desain Pesan Penjualan
Para peserta yang hadir datang dari berbagai latar belakang bidang usaha, didominasi oleh klaster kuliner seperti produsen nugget lele, kue tradisional, keripik dan peyek, sempol ayam, basreng, kue kering, hingga penjual nasi uduk. Selain kuliner, terdapat pula pelaku industri kreatif kerajinan tangan, seperti pengrajin tas dari anyaman pandan. Metode pemasaran mereka pun beragam, mulai dari konvensional (membuka lapak di rumah, pasar, atau area Car Free Day) hingga pemanfaatan platform online.
Dalam paparannya, Dr. Ira Purwitasari, M. Ikom. membedah materi krusial seputar pentingnya membangun identitas merek (branding) di tengah ketatnya persaingan digital.
"Branding bukan sekadar logo atau nama, melainkan bagaimana produk kita memiliki 'jiwa' dan dipercaya oleh konsumen. Pelaku UMKM harus mampu mendesain pesan penjualan yang unik, persuasif, dan tepat sasaran agar produk lokal memiliki daya saing tinggi," ujar Dr. Ira.
Peserta diajarkan cara menyusun narasi produk (storytelling) yang memikat serta teknik pengemasan pesan yang relevan dengan target pasar mereka, baik untuk media sosial maupun promosi langsung.
BACA JUGA: Jurnal Pengaruh Branding dan Pemasaran Digital Terhadap Perkembangan UMKM
Jeritan Pelaku UMKM: Dampak Program MBG
Meskipun kegiatan berjalan interaktif dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan, suasana berubah menjadi ruang curahan hati saat sesi diskusi dibuka. Mayoritas pelaku UMKM kuliner mengeluhkan penurunan omzet harian yang sangat drastis akhir-akhir ini. Faktor utamanya adalah penerapan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini berjalan di sekolah-sekolah.
Para pedagang, khususnya penjual sempol, basreng, dan nasi uduk, merasakan dampak penurunan pembeli yang signifikan terutama saat siswa mulai masuk sekolah. Kondisi ini diperparah dengan melonjaknya harga bahan baku utama di pasar seperti ayam, beras, dan kebutuhan sembako lainnya, yang membuat margin keuntungan mereka kian tergerus.
Para pelaku usaha menyuarakan kekecewaan mereka karena merasa tidak dilibatkan dalam rantai pasok program MBG di Kabupaten Bogor, padahal sebelumnya sempat ada janji bahwa program pemerintah tersebut akan memberdayakan pelaku usaha lokal. Mereka secara terbuka meminta agar kebijakan operasional program MBG segera diperbarui agar lebih pro-UMKM.
Merespons keluhan tersebut, Dr. Ellys Lestari Pambayun, M.Si. selaku Ketua GCKI bersama pihak narasumber menyatakan komitmennya untuk menampung seluruh aspirasi ini. Pihak akademisi dan yayasan berjanji akan merumuskan rekomendasi kebijakan dan mencari solusi terbaik untuk menjembatani masalah ini ke pihak berwenang.
BACA JUGA: Dampak Kebijakan Makan Bergizi Gratis Terhadap Ekonomi Mikro UMKM Jajanan
Keberlanjutan Program Hingga Agustus
Kerja sama pendampingan ini tidak berhenti di sini. Kegiatan Penguatan Branding ini dijadwalkan akan terus berlanjut secara berkesinambungan hingga tanggal 28 Agustus 2026.
Output dari program kolaborasi jangka panjang ini nantinya tidak hanya menyasar pada penguatan omzet dan kapasitas internal UMKM saja, melainkan juga akan dikonversi menjadi luaran ilmiah yang komprehensif. Hasil pendampingan ini akan disusun menjadi jurnal ilmiah, buku panduan praktis branding bagi UMKM, pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas produk mitra, serta laporan resmi yang akan dipertanggungjawabkan kepada Kementerian Pendidikan Tinggi (Kemendikti). Melalui langkah ini, diharapkan suara dan potret nyata UMKM Kabupaten Bogor dapat terdengar hingga ke level pembuat kebijakan nasional.
BACA JUGA: Strategi Komunikasi Pemasaran Dalam Re-Branding UMKM
Penulis: Hassa Yanura Khairina
Foto: M. Zaid Fakihuddin dan Rumaisha Adiba
