Logo 2 (1)
MENJALIN NADA, MENATA JIWA: KALA KOMUNIKASI MENJADI JALAN IBADAH DI SAUNG GCKI

BOJONGGEDE, BOGOR — Di bawah teduhnya rimbun pepohonan Kompleks LIPI 1 Rawapanjang, Bojonggede, suara dedaunan yang tergerak angin sore seolah berbisik, menyambut langkah para pencari makna. Di basecamp Gerakan Cerdas Komunikasi Indonesia (GCKI), sebuah ruang sederhana itu bertransformasi menjadi tempat berlabuhnya niat. Majelis pengajian dan silaturahmi yang digelar pada Rabu, 24 Juni 2026 ini bukan sekadar rutinitas perkumpulan, melainkan sebuah ikhtiar spiritual untuk menyelami hakikat komunikasi sebagai jembatan jiwa dan pengabdian.

Hari itu terasa kian syahdu dan sarat makna. Pertemuan ini bertepatan dengan momentum peringatan empat tahun berpulangnya Sielba Adlia Bestari (24 Juni 2022 - 24 Juni 2026), putri tersayang dari Ketua Umum GCKI. Almarhumah bukan sekadar kenangan yang diabadikan dalam doa, melainkan sosok inspirator utama yang menjadi percikan awal berdirinya Gerakan Cerdas Komunikasi Indonesia. Setiap jejak langkah dan nilai kebaikan yang disemaikan dalam organisasi ini diniatkan sebagai alir pahala yang tak terputus, sebuah amal jariyah yang terus mengalir bagi almarhumah di haribaan-Nya.

BACA JUGA: Penguatan Kebutuhan Spiritual Masyarakat Melalui Kegiatan Majelis Taklim

Acara dibuka langsung oleh Ketua Umum GCKI, Dr. Ellys Lestari Pambayun, M.Si. Dengan nada bicaranya yang tenang namun sarat makna, beliau mengajak seluruh hadirin untuk sejenak berhenti dari riuh rendah duniawi. Dalam renungannya, Ellys menegaskan bahwa hidup pada hakikatnya adalah perjalanan mengeja firman Tuhan lewat tutur kata dan perbuatan.

"Komunikasi bukan sebatas susunan kata atau retorika yang memukau mata dan telinga," ungkapnya di hadapan peserta. "Komunikasi yang sejati adalah pemantulan dari kejernihan hati (qalb). Ketika kita berkomunikasi dengan empati, kesadaran, dan niat memanusiakan sesama, di situlah komunikasi menjadi sarana ibadah, sebuah simfoni yang menautkan takdir kita dengan Sang Pencipta."

Perenungan mendalam tersebut kemudian dibingkai secara sempurna dalam tausiyah dan doa yang dipimpin oleh Ridwan Munawar, S. Sos. Dalam uraian agamisnya, beliau mengingatkan bahwa setiap helai napas dan lisan manusia kelak akan dipertanggungjawabkan. Komunikasi yang tidak diikat oleh nilai keimanan hanya akan menjadi bising yang melukai. Sebaliknya, kata-kata yang lahir dari kerendahan hati mampu menjadi penawar bagi jiwa yang gelisah. Suasana hening seketika menyelimuti ruangan tatkala doa dilantunkan, memohon ampunan dan kelapangan kubur bagi almarhumah Sielba Adlia Bestari, serta memohon pertolongan Illahi agar setiap derap langkah GCKI senantiasa berada dalam naungan rida-Nya.

BACA JUGA: Etika Berkomunikasi dan Bahasa Santun Perspektif Komunikasi Islam

Kesederhanaan acara justru menjadi perekat yang paling kuat. Momen ramah tamah hangat mengalir mengiringi sajian kuliner lokal dari UMKM Kabupaten Bogor. Di balik hidangan yang dinikmati bersama, tersirat kebersamaan yang tulus: melestarikan rezeki lokal sembari merajut tali persaudaraan yang tak berjarak.

Di tengah kehangatan itu, GCKI menatap masa depan dengan visi pengabdian yang kian mantap. Forum ini mematangkan berbagai agenda strategis, salah satunya adalah rencana program Pengabdian Masyarakat dan Penelitian berkelanjutan yang menjalin kolaborasi erat dengan Universitas Mercu Buana, Jakarta Selatan. Tak hanya itu, penguatan lini multimedia dan pengembangan ekonomi kreatif turut menjadi pilar utama yang terus dipersiapkan demi menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar spiritualnya.

BACA JUGA: PERAN KOMUNITAS UMKM KULINER DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Keberlangsungan dan keberkahan acara ini tentu tak lepas dari dedikasi segenap tim yang bekerja di balik layar. Dengan ketulusan dan keteraturan, M. Zaid Fakihuddin dan Rumaisha Adiba mengawal alur media untuk menyebarkan pesan kebaikan ini ke ruang publik. Sementara itu, Hassa Yanura Khairina selaku Koordinator Acara menata ritme kegiatan dengan begitu rapi, disokong oleh keandalan Kasan dan Apriyanti di garis logistik yang memastikan setiap kebutuhan majelis terpenuhi dengan baik.

Harapan besar kini tertanam di tanah Rawapanjang. GCKI bercita-cita untuk tidak hanya hadir sebagai wadah literasi komunikasi yang mencerdaskan pikiran, tetapi juga sebagai 'oase' yang menyejukkan jiwa. Ke depan, langkah-langkah kecil yang diayunkan dari basecamp Bojonggede ini diharapkan mampu berlipat ganda menjadi gelombang kebaikan yang lebih luas melahirkan masyarakat yang cerdas dalam bertutur, santun dalam bertindak, serta senantiasa membumikan nilai-nilai keutamaan dalam setiap dimensi kehidupan.

BACA JUGA: Strategi Adaptasi Dakwah Dalam Komunitas Muslim Perkotaan Multikultural

Penulis: Hassa Yanura Khairiina

Foto dan Edit: M. Zaid Fakihudin dan M. Anggana Khair

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *